Media Sosial Sehat sebagai Wadah Pengembangan Diri

Dewasa ini penggunaan media sosial semakin diminati oleh masyarakat terutama oleh kalangan muda. Penggunaan media sosial memiliki dampak negatif dan positif. Akan tetapi, kita dapat memaksimalkan dampak positif dari media sosial salah satunya sebagai wadah pengembangan diri. Bagaimana memanfaatkan media sosial untuk pengembangan diri?
Yuk simak penjelasan dari Pak Zaldhi Yusuf Akbar, S.Psi., M.Psi., Psikolog berikut ini..
Bagaimana perbedaan media sosial sehat dan tidak sehat?
Sebenarnya penggunaan media sosial tidak sehat itu, ketika individu dalam menggunakan media sosial dan sharing sesuatu memuat berita bohong, hoax dan sebagainya. Sedangkan penggunaan media sosial sehat ketika individu dapat menggunakannya dengan membagikan sesuatu yang bermanfaat dan menambah insight baru.
Bagaimana dampak dari penggunaan media sosial?
Dampak penggunaan media sosial yang tidak sehat tergantung pada individu. Apakah individu tersebut akan mengikuti akun atau konten yang positif atau negatif. Apabila konten yang dilihat oleh individu negatif terus menerus maka media sosial dapat berdampak kepada indiviu yang sebelumnya baik-baik saja menjadi terpuruk. Tetapi, ketika individu mengikuti akun atau konten yang positif, dampaknya ketika ia tidak memiliki inspirasi dan sangat membutuhkan masukkan, maka media sosial dapat menjadi wadah untuk informasi yang dia butuhkan.
Bagaimana kaitannya media sosial sehat dengan pengembangan diri individu?
Tentunya ada. Dan ini pun dapat kita kaitkan dengan kepribadian. Pribadi yang cenderung introvert lebih mengembangkan dirinya lewat tulisan. Tulisan itu bisa ditulis di media sosial atau di buku. Biasanya, orang yang introvert memiliki kecenderungan lebih menyukai menulis daripada berbicara di depan umum secara verbal. Karena memang orang introvert cenderung akan malu. Tapi ketika ia di media sosial ia akan show off, akan menunjukkan kemampuannya.
Itu adalah cara yang simpel atau sudut pandang yang simple dan sederhana. Beda lagi dengan ekstrovert yang memang suka upload di sosmed, katarsis, dan bisa juga dia memiliki verbal yang bagus. Rata-rata individu ekstrovert ada yang menuangkan pikirannya dengan cara sharing sesuatu yang inspiratif. Tetapi tidak semua media sosial yang individu ektrovert punya akan di isi dengan suatu yang positif. Karena ia mempunyai sudut pandang yang lain. Analoginya, di media sosial twitter akan menjadi ajang dia untuk ngetweet yang tidak berbobot atau spam. Tetapi beda di instagram, facebook. Bisa saja yang instagram untuk akademisi. Banyak orang memiliki sisi sisi lain yang dituangkan ke media sosial yang berbeda. Itu juga bagian dari pengembangan diri.
Adakah indikator tertentu yang menjadi dasar tercapainya pengembangan diri terlebih dalam penggunaan media sosial sehat?
Jadi beberapa orang terkait dengan media sosial itu ada yang lebih ke pengembangan diri dan ada pula keinginan untuk pelepasan beban. Ini ada kaitannya dengan kartasis di media sosial, pelepasan beban di media sosial. Jadi tidak selamanya media sosial sebagai wadah pengembangan diri. Bisa juga itu bagian dari katarsis atau melepaskan beban-beban. Atau mau membagikan pengalaman. Ini juga bisa berkaitan dengan individu yang mau nulis buku misalnya. Dia akhirnya cenderung untuk mengembangkan diri di media sosial dengan mengembangkan kemampuan potensinya sehingga potensinya dapat maksimal.
Bagaimana cara menyalurkan katarsis dalam penggunaan media sosial?
Katarsis merupakan pelepasan diri dari ketegangan, pengembangan kesehatan mental pun termasuk bagian dari katarsis. Jika pengembangan diri seseorang dapat menuangkan melalui tulisan, sedangkan pada katarsis cenderung pada pengelolaan dan pengembangan kesehatan mentalnya. Sehingga setiap orang memiliki porsi yang berbeda – beda dalam pelepasan keteganggannya. Media sosial pun dapat menjadi wadah untuk menyalurkan katarsis. Idealnya dengan membagikan hal – hal positif, promosi hal positif yang sesuai dengan minat pribadi sehingga dapat menginspirasi orang lain.
[opini_nindya & re]