Pentingnya Dukungan Sosial dalam Menghadapi Quarter Life Crisis pada Masa Emerging Adulthood

Quarter Life Crisis adalah perasaan khawarir yang hadir karena ketidakpastian mengenai kehidupan yang akan datang seputar relasi, karir, dan kehidupan soaial yang dialamai pada usia sekitar 20-an (Fischer, 2008). Dalam masa dewasa awal tugas perkembangan usia ini adalah membentuk keintiman, berkomitmen dan menciptakan keluarga (Brannon et al., 2013). Dalam kondisi ini rentan sekali individu mengalami Quarter Life Crisis terutama pada individu yang belum mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia sosial. Oleh karena itu, individu perlu melakukan banyak tahapan eksplorasi dalam dunia karir, relasi, pembentukan identitas, status hubungan, dll. Individu dalam melakukan tahapan tersebut harus memiliki jiwa yang optimis, kreatif dan pantang menyerah karena akan dihadapkan dengan tantangan dan hambatan yang beraneka ragam (Purwadi & Widyantoro, 2016). Nash & Murray (2010) mengatakan bahwa yang dihadapi ketika mengalami quarter life crisis adalah masalah terkait mimpi dan harapan, tantangan kepentingan akademis, agama dan spiritualitasnya, serta kehidupan pekerjaan dan karier. Permasalahan-permasalahan tersebut akan muncul ketika individu masuk pada masa emerging adulthood.

sumber gambar http://bacaekon.com/menghadapi-quarter-life-crisis

Emerging Adulthood adalah istilah yang banyak digunakan untuk menggambarkan perubahan dari masa remaja menuju dewasa dari usia sekitar 18-29 tahun (Arnett, 1998). Pada masa ini, individu mulai mengekplorasi identitas pada tiga bagian utama yaitu bidang percintaan, pekerjaan dan pendidikan (Aylward, 2007). Individu akan berusaha hidup lebih mandiri, mulai menerapkan norma-norma kehidupan dan mulai membentuk hubungan dengan individu lain (Papalia, 2014). Periode perkembangan ini sering diremehkan karena mereka tidak merasa khawatir dan menganggap orang orang dimasa ini sudah mampu menerima dan memikul tanggungjawab yang lebih berat. Proses eksplorasi identitas pada masa emerging adulthood tidak selalu berjalan sesuai harapan dan berpotensi memperburuk gejala kecemasan dan depresi yang diakibatkan gangguan dan hambatan yang timbul. Tingkat depresi pada penduduk Indonesia yang berusia lebih dari 15 tahun meningkat 3,8 % pada kurun waktu 5 tahun dari tahun 2013 hingga 2018 (Kemenkes RI, 2018).

Individu pada masa emerging adulthood yang memiliki tingkat depresi tinggi dilaporkan juga mengalami krisis perkembangan disebut juga krisis usia seperempat abad atau quarter life crisis (Wijaya & Utami, 2021). Quarter life crisis biasanya terjadi ketika individu telah meyelesaikan pendidikan baik itu SMA atau Perguruan Tinggi, ketika status sosial berubah dari pelajar menjadi pekerja, perubahan rutinitas masa sekolah yang sebelumnya terstruktur menjadi lebih mandiri di masa perkuliah atau bekerja (Chevalier & Lindley, 2007; Rugg et al., 2004; Robinson et al., 2021; Wijaya & Utami, 2021). Pada masa ini, individu dihadapkan dengan beberapa pilihan yang berkaitan dengan masa depan. Sebagian besar individu merasa khawatir terhadap pilihan apa yang harus diambil dan menyebabkan munculnya pertanyaan sudah benar atau belum pilihan yang diambil.

Arnett (2004) mengemukakan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi quarter life crisis yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi eksplorasi indentitas atau proses mencari tujuan hidup, ketidakstabilan perubahan hidup yang mengharuskan individu untuk cepat menyesuaikan diri dengan keadaan, fokus pada diri sendiri, belajar menjadi  bertanggung jawab atas keputusannya sendiri, feeling in between  atau tahapan dimana individu bukan remaja lagi tapi secara mental belum memenuhi kriteria dewasa, the age of possibilities yaitu tahapan dimana individu merasa khawatir dengan ketidaksesuaian realitas di masa depan dengan sudah direncanakan. 

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu masa quarter life crisis adalah dengan adanya dukungan sosial. Peran positif orang-orang di sekitar seperti orang tua, pasangan, teman, keluarga akan mempermudah individu dalam menyelesaikan masalah. Dukungan sosial secara umum adalah bantuan yang diterima individu dari orang disekitar berupa rasa aman, kepedulian, atau penghargaan. Keadaan tersebut akan membuat individu merasa dihargai, dicintai dan diperhatikan (Putri, 2020). Selain itu, menurut Chaplin (2005) dukungan sosial adalah melakukan sesuatu yang dapat membantu memenuhi kebutuhan orang lain, memberikan dorongan atau pengobatan berupa ucapan semangat dan nasihat. Sehingga dukungan sosial yang baik dari orang-orang sekitar dapat membantu menghadapi quarter life crisis  pada masa emerging adulthood.

Dukungan sosial berupa dukungan emosional, dukungan instrumental, maupun informasi yang baik akan memberikan pengaruh terhadap tingkat stress dan gejala depresi yang lebih rendah dalam menghadapi permasalahan (Cohen & Wills, 1994); Thoits PA, 1995). Begitu juga Sarason et al., (1990) mengatakan, ikatan lingkungan keluarga dan persahabatan dengan teman sebaya merupakan sumber dukungan sosial yang akan memberikan kepuasan emosional. Wills dalam buku Sarafino (1994) menyatakan bahwa setiap sumber yang berperan memberi dukungan sosial mempunyai peran yang  berbeda dan individu akan cenderung meminta saran atau pendapat sebagai dukungan sosial kepada orang tua, teman, guru, atau dosen. Sedangkan sumber untuk mendapatkan ikatan atau keintiman dalam hubungan adalah pasangan hidup, sahabat, dan seringkali anggota keluarga (Estiane, 2015).

Pada masa emerging adulthood individu mulai hidup lebih mandiri dengan mulai meninggalkan lingkungan keluarganya dan lebih sering berinteraksi dengan lingkungan perteman atau pasangannya (Estiane, 2015) sehingga dukungan sosial dari sahabat dan pasangan merupakan hal yang penting. Dukungan sosial sangat dibutuhkan dimasa emerging adults karena dimasa ini terjadi perubahan yang sangat signifikan sehingga membutuhkan dukungan besar untuk membantu arah transisi dengan sukses (Wood et al., 2018). Apalagi masa emerging adulthood adalah masa masa transisi antara remaja menuju dewasa yang terjadi diawal usia 20-an dan mengharuskan mereka untuk melibatkan pengalaman bereksperimen dan bereksplorasi terhadap dunianya.

Dukungan sosial yang diterima pada masa emerging adulthood akan membuat individu merasa dicintai, diterima, dihargai, dan diperhatikan (Putri, 2020). Individu akan merasa nyaman dan lebih percaya diri ketika menjadi bagian dari jangkauan sosial, seperti keluarga, organisasi, komunitas, atau bahkan institusi. Selain itu, dukungan sosial akan membentuk karakter yang lebih baik seperti, menerapkan nilai-nilai kebaikan, saling mendukung, dan saling membantu saat dibutuhkan. Hal ini menunjukan bahwa pengaruh dukungan sosial di masa emerging adulthood sangatlah dibutuhkan. Semakin banyak dukungan sosial yang diterima, maka semakin kecil kemungkinan untuk mengalami stres atau depresi, karena dukungan sosial tersebut dapat membantu mempermudah individu dalam menghadapi masalah (Wijaya & Utami, 2021). 

Adanya dukungan sosial yang diterima pada masa emerging adulthood akan mempermudah seseorang dalam menghadapi quarter life crisis. Dukungan sosial tersebut akan menimbulkan rasa nyaman, percaya diri, dan akan membentuk karakter-karakter baik dalam diri seseorang. Semakin banyak dukungan sosial yang diterima seseorang, maka semakin kecil kemungkinan untuk mengalami stres atau depresi, begitu juga sebaliknya semakin sedikit dukungan sosial yang diterima, maka kemungkinan untuk stres akan semakin besar.

Penulis: Vanessa Meldy Saphira, Shintia Isna Dheannova, Lora Ferizka, Farisatul Jihan (Mahasiswa Fakultas Psikologi UMP Angkatan 2021).

Editor: Fatin RN Wahidah, Dzikria AP Wijaya

About the author: admin

You must be logged in to post a comment.