Mari Mengenal Emosi

pixabay.com

Dewasa ini, masyarakat umum lebih mengenal emosi sebagai bentuk kemarahan. Namun, ternyata emosi bukan hanya marah melainkan terdapat emosi dasar lainnya. Untuk mengkaji lebih lanjut mengenai emosi kami melakukan wawancara bersama Pak Imam Faisal Hamzah, S.Psi., M.A. secara daring pada Kamis, 10 Desember 2020.

  1. Apa definisi dari emosi?

Emosi merupakan reaksi penilaian negatif atau positif yang kompleks dari saraf terhadap sebuah rangsangan yang kemudian muncul dari luar dan dalam. Jadi emosi merupakan reaksi, yang menurut paul ekman terdapat 6 emosi dasar yaitu marah, sedih, senang, terkejut, jijik dan takut sehingga memang orang lain pun akan tau seperti apa emosi dari kita.

  • Faktor – faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya emosi?

Dilihat dari psikologi, emosi meiliki 3 aspek yaitu afeksi, psikomotor / perilaku, dan kognitif. Ketika emosi merujuk pada kognisi, terdapat persepsi.  Jika persepsi antara individu ini berbeda maka reaksinya pun akan berbeda, misalnya jika terbiasa dengan ular sejak kecil maka ketika bertemu dengan ular menjadi tidak takut berbeda dengan yang tidak terbiasa akan takut. Pun terdapat faktor budaya kolektif dan budaya individualis, jika individualis emosi muncul karena dirinya sendiri, dapat meregulasi dirinya sendiri berbeda dengan kolektif emosi yang terkait dengan orang lan. Selain itu, terdapat pengaruh dari fisiologis atau biologisnya ada bagian otak amigdala berfungsi untuk mengendalikan emosi.

  • Bagaimana proses terjadinya emosi?

Proses emosi tidak terlepas dari kognisi dan sensasi panca indera. Jika ada rangsangan dari luar dan mendapatkan sebuah informasi maka akan masuk ke kognisi yang akan dipresepsikan. Persepsi pada setiap orang akan berbeda sehingga menimbulkan reaksi emosi yang berbeda pula. Selain itu, terdapat rangsangan dari dalam misalnya kondisi hormon tertentu atau  stimulus dari fisik. Rangsangan dari luar atau dalam kemudian masuk ke panca indera terlebih dahulu kemudian ditafsirkan dan direspons secara fisiologis maupun motorik

  • Perbedaan emosi, mood, perasaan?

Mood merupakan keadaan emosional yang keadaannya bersifat sementara dan termasuk bagian dari emosi misalnya mood sedang baik maka menunjukkan emosi-emosi yang baik pula.

Sedangkan emosi  berlangsung cukup lama dan bersifat eksternal sehingga orang lain dapat mengetahui emosi kita, berbeda dengan perasaan yang lebih internal dan lebih dalam jadi hanya kita yang tahu seperti emosi tertawa bukan berarti menunjukan senangnya hati bisa saja sedih atau takut. Kemudian,  yang kita ketahui bahwa orang yang menangis adalah orang yang sedih tetapi belum tentu kalo ia sedih karena terdapat pengalaman yang membuat ia menangis. Hal ini bisa saja terharu karena mendapatkan sesuatu seperti saat wisuda.

Pun pada emosi lebih kompleks karena ia melibatkan kinerja otak, melibatkan otot otot didalam tubuh. Sedangkan perasaan sederhana, hanya merasakan sesuatu. Ada  yang namanya mikro emosi, emosi sepersekian detik yang kita baca dari orang lain yang bisa diartikan sebagai emosi asli dari orang tersebut.

  • Bagaimana menciptakan regulasi emosi yang baik?

Kembali lagi kepada individu itu sendiri baik dan tidaknya. Cara mengatur emosi mungkin bisa dilakukan oleh individu tertentu namun tidak bisa digunakan oleh orang lain. Jadi memang harus mencari cara yang tepat dan baik tanpa membuat destruktif diri sendiri. Namun, yang perlu diperhatikan ialah kognisi. Bukan sekedar meluapkan emosi namun libatkanlah kognisi. Misalnya saat marah memikirkan “jika saya marah saat ini apa dampak dan akibatnya” Jadi manusia punya bagian otak bernama pre frontal cortex berbeda dengan hewan yang tidak memiliki. Sehingga hewan ketika berperilaku mereka lebih terdorong melakukan sesuatu didasarkan pada emosi mereka di bandingkan dengan akal mereka. Maka dari itu dalam meregulasi emosi kita perlu mengaktifkan pre frontal cortex dan akal.

  • Bagaimana untuk memiliki kecerdasan emosional bagi individu yang baik, dan perbedaan terkait regulasi emosi dan kecerdasan emosi?

Beberapa orang menganggap bahwa regulasi emosi dan kecerdasan emosi itu sama. Intinya mengasah emosi dengan melibatkan kognisi. Sehingga saat ada stimulus yang akan menyulut emosi, libatkanlah dengan kognisi dan menghadirkan memori masa lalu yang terkait pengalaman saat ini. Pun menghadirkan semua komponen persepsi, problem solving kemudian berfikir. Memang butuh proses misalnya melatih diri dengan menahan emosi dan memikirkan akibatnya.

Pun perlu menjaga kesadaran. Misal ada orang yang menjelekan kita kemudian berfikir jika marah apa akibatnya. Hal ini melibatkan kognisi dan pikiran untuk merespon emosi. Bisa dilatih sejak dini, dengan memahami emosi.  Jadi ketika kita marah jangan ditolak tapi dipahami  dan perhatikan emosi. Misalnya ada anak jatuh kemudian orang di dekatnya bilang “tidak apa – apa” itu merupakan perilaku tidak tepat namun mencoba untuk dipahami “kamu jatuh ya? Mana yang sakit?” Jadi pahami saja.

Maka dari itu, kita perlu untuk memberikan tempat bagi emosi. Ada saatnya kita merasa takut, sekali – kali kita memberikan ruang untuk merasa terkejut. Pun jangan melupakan aspek kognitif maupun akal kita. Karena salah satu fungsi akal untuk mengendalikan emosi.

[opini_nindya&rere]

About the author: Content Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published.Email address is required.