Mengatasi Stres di Tengah Pandemi selama Ramadan

By : koranmadura.com

Puasa Ramadan 1441 H ini tak seperti puasa pada tahun-tahun sebelumnya. Sejak mewabah, COVID-19 (corona virus disease 2019) mengubah hampir seluruh aktivitas manusia di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Ditambah umat Islam kini harus menghadapi kenyataan jika aktivitas keagamaan di bulan puasa yang biasanya dikerjakan bersama-sama seperti sholat tarawih, ngaji, iktikaf di masjid & diakhiri sholat ied di lapangan kini tidak bisa dilakukan secara berjamaah. 

Selama pandemi COVID – 19 ini tidak dipungkiri untuk mengalami stress dari berbagai aspek karena harus cepat beradaptasi. Jadwal bekerja dan kehidupan sehari – hari di tengah pandemi ini pun seringkali tumpang tindih kemudian menyebabkan overworking bahkan kejenuhan. Berbagai webinar dan seminar daring juga mengkaji strategi coping yang bisa dilakukan guna mencegah manusia stres, kebosanan, kejenuhan yang tinggi menghadapi pandemi dengan beraktivitas di rumah aja.

Cara paling sederhana menurut Bu Gisel dalam menyikapi stres adalah dengan meluangkan waktu untuk diri sendiri. Ketika sudah penat, sebaiknya tidak memaksakan diri, dan juga tidak merencanakan sesuatu hal yang baru diluar kapasitas. Terkadang selama pandemi, orang-orang cenderung bingung dan merasa kurang produktif padahal biasanya ketika tidak di rumah saja, kerjaannya cuma ‘segitu’ tadi kurang menunjukkan produktivitas.

Bu Gisel pun menambahkan untuk tetap jaga kewarasan dengan tetap berinteraksi dengan orang lain. Selama pandemi, beliau mengaku menghubungi keluarga dekat intensitasnya meningkat hampir 4x lipat. Menurut beliau, menghubungi pun seperti menyuntik kebahagiaan.

Fenomena #challanges dan aktivitas daring di berbagai platform media sosial juga menunjukkan upaya manusia melakukan strategi coping untuk mengatasi kejenuhan selama di rumah aja. Sebagai contoh ada #brushchallange, konser amal daring, wawancara daring, siraman rohani daring, tebak gambar daring, dan lain sebagainya. Pesan yang disampaikan dari aktivitas tersebut secara umum hampir sama yaitu “we are in this together” yang artinya kita bersama-besama melawan pandemi ini.

Beliau mengatakan bahwa hikmah yang bisa diambil dari pandemi ini adalah kita memiliki waktu  luang yang banyak, bisa bercengkrama dan melakukan aktivitas bersama keluarga. Mencoba hal baru dan menemukan bakat terpendam, lalu semakin akrab dengan kawan lama karena komunikasi semakin intens. Selama Ramadan kita pun bisa mengeksplorasi tentang agama dan bisa ikut banyak kajian karena banyak penyelenggara yang mengadakan kajian daring tanpa harus jauh – jauh ke tempat tersebut.

Pesan beliau melalui tulisan ini, berusaha mengingatkan bahwa kurva kasus virus corona di Indonesia belum landai. Tetap lakukan upaya untuk mencegah penyebaran secara meluas dan massal. Mohon sekali untuk tetap dirumah saja. Sudah banyak yang rela tidak kemana-mana, kehilangan perkejaan, tahan penyakitnya karena akses kesehatan dibatasi, jadi jangan egois dengan anggapan “ah cuma saya yang mudik ini, gapapa, ah cuma saya yang keluar ini, gapapa” tapi kemudian dengan keegoisan tersebut banyak yang tedampak, kalau selama Ramadan kita ingat jika perilaku egois tersebut bisa saja mendatangkan dosa karena dzalim merugikan diri sendiri dan orang lain.

[Tim Opini]

About the author: Content Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published.Email address is required.