Bagaimana Merefleksikan Kepribadian Panglima Besar?

10 November 2021 diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Maka dari itu, bertepatan dengan peringatan perjuangan pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia, tim web content writer ingin mengulas kepribadian seorang Panglima besar. Jenderal Sudirman merupakan seorang panglima besar yang memiliki jasa dalam pertahanan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya saat beliau melakukan perang gerilya dimana beliau menerapkan pantang menyerah dalam perjuangan Indonesia.

Kepribadian pantang menyerah ini dibuktikan saat terjadi agresi militer II Belanda ketika pahlawan revolusi kita ditawan oleh Belanda, Jenderal Sudirman langsung memberikan perlawanan terhadap Belanda dengan menerapkan sistem perang gerilya walaupun beliau dalam kondisi sakit TBC yang parah dan dalam kondisi lemah (Nireki et al, 2020).

Pantang menyerah dan gigih untuk mencapai tujuan kemerdekaan merupakan bentuk dari pola pikir bertumbuh atau growth mindset. Growth mindset merupakan sebuah keyakinan bahwa apapun yang terjadi hari ini bisa berubah menjadi lebih baik lagi kedepannya. Dilansir dari laman Qubisa, disebutkan bahwa orang yang memiliki growth mindset ini adalah individu yang memiliki prinsip bahwa kesuksesan yang diterima adalah buah dari kegigihan, perjuangan yang continue, tekun serta konsisten sehingga akan memiliki mental yang kuat untuk berjuang dalam meraih tujuan.

Kepribadian yang lain yang dimiliki oleh Jenderal Sudirman adalah memiliki jiwa sosial. Jiwa sosial Jenderal Sudirman dilihat dari kontribusi beliau dalam ikut serta di dalam sebuah organisasi Badan Pengurus Makanan Rakyat, organisasi ini bertujuan untuk membantu masyarakat yang mengalami kelaparan pada saat peperangan terjadi (Nireki et al, 2020). Nah, psyfams memang pada dasarnya untuk berjuang dibutuhkan jiwa sosial yang tinggi dimana jiwa sosial ini dapat tumbuh dengan cara menerapkan empati, simpati dan peduli terhadap orang lain.

Jenderal Sudirman pun diketahui adalah seorang pahlawan yang taat agama. Penduduk dan pasukan beliau paham bahwa beliau merupakan orang yang taat dalam beragama Islam dan pernah menjadi seorang guru di sekolah Muhammadiyah, hal ini patut untuk ditiru bahwa ketika kita mengamalkan agama maka urusan yang lain pun akan mengikuti dan menerangi langkah yang kita ambil (Nireki et al, 2020). Kecerdasan Spiritual seorang individu pun merupakan salah satu aspek untuk menentukan seseorang dalam meraih kesuksesannya.

            Selain itu, Panglima besar pun merupakan seorang yang cerdas. Kecerdasan merupakan sebuah awal dari individu untuk memerdekan diri sendiri atau untuk memudahkan mencapai tujuan, hal ini dilihat dari bagaimana perjalanan hidup yang dijalani oleh Jenderal Sudirman ketika tidak dalam keadaan berperang beliau tetap menyusun sebuah strategi pertahanan maupun penyerangan, rencana yang disusun oleh beliau pun selalu sukses sehingga membuat beliau yang awalnya hanya seorang prajurit biasa bisa menjadi seorang Jenderal (Nireki et al, 2020). Dari perjalanan  itulah, seorang Jenderal Sudirman memiliki aktualisasi diri yang baik. Dilansir dari hallosehat.com, aktualisasi diri merupakan kemampuan seorang individu untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

            Dari ulasan di atas, hendaknya kita dapat meneladani kepribadian Jenderal Sudirman dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan merefleksikan sebagai pemuda-pemudi untuk membuat negara Indonesia lebih maju kedepannya terutama untuk menerapkan era normal baru dengan menerapkan pola pikir bertumbuh bahwa saat ini kondisinya bisa berubah menjadi lebih baik, kecerdasan spiritual dengan mendekatkan diri kepada Allah, aktualisasi diri yang baik serta jiwa sosial yang tinggi dengan peduli terhadap kondisi kesehatan fisik dan mental sesama individu.

 Selamat Hari Pahlawan Nasional, mari refleksikan perjuangan pahlawan terdahulu untuk Indonesia Maju! Psikologi Bravo!

~Salam Web Content Writer

Referensi :

Qubisa.com

Hellosehat.com

Nireki et al, (2020). Manifestasi Perjuangan Jenderal Soedirman Pada Era Masa Kini di Indonesia. Livercy : Jurnal Imiah Sosial 2(1), 16-25

About the author: Content Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published.Email address is required.